Minggu, 04 November 2018

PUISI KALANGAN SANTRI


Santri pelosok negeri

Kami berasal dari berbagai pelosok negeri
Kami berangkat dengan keyakinan yang tinggi
Di hati kami telat bulat sempurna
Untuk pergi mengembara
Mencari setitik cahaya di timur pulau jawa

Pucat pasi mungkin lebih buruk lagi
Tergambar di wajah yang masih lajang ini
Bak seekor pipityang bingung mencari padi
Tuk nafkahi anak istri di sangkar jerami

Ku lihat gerbang tinggi menjulang
Menembus panasnya mentari siang
Ku suap peluh yang telah bercucur ini
Dengan sapu tangan ibu yang ia berikan saat aku hendak pergi

Kurasakan hati ini begitu gembira
Menatap manusia berbaju taqwa
Mengalunkan syair atau mungkin lagu
Dan..... entah apakah itu tak penting bagiku
Karena ku belum mengenal apa lagi tahu





I santri

Wajahnya memang tak tampan
Tak seperti aktor terkenal india shakh rukhan
Tubuhnya tak terlalu rupawan
Tak seperti ade rai yang memang binaragawan

Suaranya tak terlalu merdu
Tak seperti boy band korea suju
Kulitnya tak semuanya putih
Tak seperti vokalis band krispatih

Tapi jangan salah menilai
Jangan pula salah menerka
Dan yang terpenting jangan salah membaca
Karena dia bisa segalanya

Walaupun ia tak tampan
Tapi wajahnya di sinari oleh cahaya kebenaran
Walaupun ia tak seperti binaragawan
Tapi jiwa dan kekuatanya bak pahlawan super american
Walaupun suaranya tak merdu
Tapi bacaan al-qur’anya dapat menggetarkan qolbu





Aku santri indonesia 1

Aku santri
Seorang penimba ilmu dari negeri ini
Bagiku gelar sarjana tak perlu
Karena ku tahu itu hanya selembar kertas yang akan berdebu

Aku santri aku indonesia
Aku belajar siang dan malam bi niati lillahita’ala
Tak mengharapkan apa-apa
Hanya sekedar menghilangkan kebodohan semata

Aku santri aku indonesia
Kata orang- orang ilmu segalanya
Maka ku buktkan dengan berusaha
Berusaha demi kebaikan ku
dan semua yang ku cinta dan yang ku punya


aku santri aku indonesia
aku berani dan aku kan berusaha
membela NKRI sampai binasa
sampai nafas ini tak lagi tersisa





hidupnya santri

matanya sayu.....
tapi semangatnya menggebu-gebu
wajahnya sedikit tampak kusam
tapi tak sedikit oleh harapan

hari-harinya sesalu sibuk
untuk menimba ilmu yang majemuk
tanganya sesalu bergerak
guna tuliskan tinta dari senjata warna perak

memejamkan matanya di kala malam
sebab utamanya adalah mengulang pelajaran
karna ia tahu hidupnya bukanlah mainan
maka dari itu ia terus maju berjuang

walau kadang panas jadikan kulitnya hitam
walau kadang dinginya malam menembus sampai ke sum-sum tulang
tapi tak apa ia lantang katakan
hanya guna satu tujuan dan satu impian
hidup bahagia sekarang , kelak, dan saat hari pembalasaan





Musyawarah malam

Saat fajar menyambut malam
Saat itulah mereka mulai persiapan
Bukan guna mengembara dalam pulau impian
Tapi guna pecahkan kemusykilan

Bukan komik yang di bawa dalam acaranya
Kecuali kitab dengan isi yang luar biasa
Bukan nasi padang yang di jadikan konsumsinya
Melaikan kopi hitam dan beberapa rokok favorit mereka

Perdebatanya bukan untuk menyulut peperangan
Tetapi guna kuatkan argumen yang mereka utarakan
Bahkan tak jarang adegannya sampai berjam-jam
Hingga mereka melalaikan moderator yang mengarahkan

Sungguh nikmat musyawarah malam
Sungguh berguna besar bagi masa mendatang
Maka jangan tinggalkan musyawarah siang maupun malam
Yang dapat hadirkan lampu terang seusai kemusykilan



Santri aliyyah

Kenalkan aku santri aliyyah
Santri dengan tingkatan tertinggi di madrasah diniyyah
Hafalanku bukanlah lagi jurumiyyah ataupun tasrifiyah
Melainkan nadzom istimewa bernama al fiyyah

Banyak orang berkata
Bahwa santri aliyyah serba bisa
Ya.... bisa membaca kitab tanpa ma’na
Dan mentakror isi kitab tanpa perlu bingung bertanya

Kenyataanya.......
Ia jauh dari yang di sangka-sangka
Menarkibi saja belum bisa
Apalagi membaca kitab tanpa ma’na

Aduh..... sungguh terlalu
Rasa gengsi seakan tertambat oleh suatu kata
“ belum tahu” .....
Bertahun-tahun sudah kau mengenyam fan nahwu berikut dengan “si ibu”....
Tapi...... masih belum tahu....

Motivasilah dirimu Genggam erat tekadmu.....
Pandai tidaklah wajib Melaikan tuntutan zamanmu.
Kaulah yang haqiqi

Dia yang berbeda....
Jelas dan tampak di panca indra
Jikalau di pandang memang sederhana dan tak istimewa
Kecuali kau telisik , dan rahasia besar ada padanya...

Walau hanya berbusana ala kadarnya
Walau hanya makan seadanya
Namun kehadirannya sungguh terasa
Di antara lumpur yang penuh permataz
Berbuahkan ketaqwaan hamba sejati

Kau pula delegasi
Dari jutaan manusia yang telah tau diri
Lalu janganlah kau berlari
Bersama harapan yang telah mereka nanti
Menjadi santri sama saja menciptakan jalan kesurga untuk diri sendiri
Bahkan untuk orang lain juga